Rabu, 14 Januari 2009

KAIDAH IMPLEMENTASI SIMRS BERBASISKAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI RUMAH SAKIT

SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) yang berbasiskan teknologi informasi merupakan suatu prestige tersendiri bagi rumah sakit yang sudah menggunakannya, sebab selain dapat membawa perubahan yang bersifat manajerial (seperti laporan – laporan internal dan eksternal) juga dapat membawa suatu habit yang menuju perbaikan dan modern. Selain itu, bagi pengembang juga memiliki prestige tersendiri juga, bagi pangembang yang berhasil, atau minimalnya pernah terlibat secara langsung atau tidak akan mendapatkan promosi dari hasil pekerjaannya (jika berjalan sukses).
Setiap rumah sakit yang bersiap – siap untuk mengimplementasikan SIMRS yang berbasiskan teknologi informasi biasanya akan mengadakan suatu survey tersediri ke tiap – tiap rumah sakit yang sudah menggunakannya, hasil survey yang pernah dilakukan biasanya akan berdampak pada image perusahaan pengembang serta dampak yang diperoleh.
Saat ini sudah banyak pengembang yang dapat aplikasi SIMRS yang berbasiskan teknologi informasi, baik secara corporate atau personal, dan dengan harga yang bervariasi juga, tergantung pada kelengkapan aplikasi yang diinginkan. Hal yang perlu diingat oleh setiap rumah sakit yang akan mengembangkan SIMRS nya, harga yang ditawarkan oleh setiap pengembang hingga saat ini belum memiliki standar yang baku, artinya sah – sah saja jika setiap pengembang menawarkan harga yang berbeda – beda padahal jika difikir – fikir sedikit sekali perbedaan fungsinya, yang banyak mungkin hanya tampilan atau warna.
Ada suatu kesalahan dalam berfikir dan menterjemahkan SIMRS-IT di suatu rumah sakit, pihak manajemen biasanya akan berfikir setelah SIMRS-IT diimplementasikan maka segala kemudahan yang telah diimpikannya akan terwujud, apalagi setelah berdasarkan hasil survey di rumah sakit yang telah dikunjunginya selalu menemukan kemudahan – kemudahan. Tetapi apakah hal tersebut dapat terwujud di rumah sakit sendiri ? jawabannya belum tentu, sebab ada beberapa hal prinsip yang dilupakan oleh pihak manajemen rumah sakit dalam menerapkan SIMRS-IT, hal tersebut adalah rumah sakit yang dikunjunginya adalah bukan rumah sakit tempatnya bekerja, dengan demikian akan memiliki beberapa perbedaan yang mendasar, seperti habit/tatacara/kebiasaan/sistem dan pegawai. Perbedaan – perbedaan inilah yang biasanya terlupakan oleh pihak manajemen dalam mengartikan tingkat keberhasilan dalam implementasi SIMRS-IT.
Setiap rumah sakit memiliki cara yang berbeda dalam memberlakukan suatu kebijakan, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hal tersebut wajar, karena memiliki pimpinan yang berbeda, terlebih lagi setiap rumah sakit akan bersaing untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggannya dengan cara – cara yang berbeda. Tingkat pengalaman dalam mengimplementasikan SIMRS-IT bagi para pengembang juga dapat dijadikan suatu ukuran keberhasilan, semakin berpengalaman maka pengembang akan melakukan tingkat kehati – hatian yang tinggi, karena akan mempertaruhkan nama baiknya dalam bisnis SIMRS-IT. Bagi rumah sakit, cenderung akan memilih pengembang yang sudah berpengalaman dalam mengimplementasikan SIMRS-IT (mungkin sedikitnya telah 3 rumah sakit dalam kurun waktu tertentu).
Membuat dan mengimplementasikan SIMRS-IT bukan sesuatu yang mudah dilakukan, apalagi jika di rumah sakit yang bersangkutan telah memiliki pengalaman dalam implementasi SIMRS-IT.
  • Pertama – tama yang harus dilakukan manajemen sebelum mengimplementasikan SIMRS-IT adalah memberikan sosialisai kepada setiap pegawai tentang rencana dan tujuan diterapkannya SIMRS-IT, menerima penjelasan yang sebanyak – banyaknya adalah hak pegawai, sebab pegawai dari unit manapun merupakan tulang punggung suksesnya implementasi SIMRS-IT. Tentukan peran masing – masing pegawai ketika SIMRS-IT sebelum diimplementasikan, jangan sampai saling merasa tidak bertanggungjawab terhadap implementasi SIMRS-IT. Dalam proses sosialisasi ini sebaiknya manajemen juga memetakan kesulitan dan kebutuhan yang ada dilapangan berdasarkan prioritas, sebab jika manajemen melihat SIMRS-IT hanya dari apa yang telah dilihatnya ketika melakukan studi banding maka sudah dapat dipastikan yang dilihatnya merupakan sesuatu yang menyenangkan.
  • Kedua yang harus dilakukan oleh pihak manajemen adalah memetakan setiap pelayanan hingga pada bentuk laporan ke dalam suatu narasi teknis keilmuan (SOP/prosedur/alur kerja/) sehingga mudah dimengerti oleh setiap pembacanya, narasi yang dibuat dapat berupa tulisan atau gambar alur. Hal ini dimaksudkan agar pembuat / pengembang dapat menyesuaikan program aplikasi yang dibuatnya dengan keadaan rumah sakit bersangkutan, bukan sebaliknya (justru hingga kini masih banyak rumah sakit yang didikte oleh pengembang dalam menjabarkan suatu alur kerja dan pelaporan). Ingat ! dalam menterjemahkan alur manual ke dalam bahasa pemograman pengembang emang jagonya, tetapi secara substansi justru para pegawailah jagonya…kesulitan atau kelemahan para praktisi.
  • Ketiga yang harus dilakukan oleh rumah sakit adalah menunjuk siapa penanggungjawab teknis dilapangan mulai dari proses sosialisai hingga proses pengembangan program aplikasi SIMRS-IT, hal ini penting, sebab dapat mempermudah proses pembuatan, artinya pengembang hanya akan bertanya kepada seorang penanggungjawab internal saja jika ada hal – hal yang perlu dikonfirmasikan. Penanggungjawab di sini dapat diartikan sebagai manager/pengatur SIMRS-IT, orang yang ditunjuk dapat yang berasal dari latar belakang pendidikan yang sesuai ataupun tidak, intinya orang tersebut haruslah orang yang paling mengerti dan bertanggungjawab pada narasi yang telah dibuat oleh rumah sakit. “The right man on the right job”, pilihlah orang yang mengerti secara manajerial, bukan orang yang mengerti secara teknis aplikasi…sebab orang yang mengerti secara manajerial akan selalu membuat terobosan – terobosan dalam memecahkan kebuntuan. Harus dipisahkan antara yang berfikir secara manajerial dengan yang berfikir secara teknis aplikasi…berdasarkan pengalaman, SIMRS-IT akan berhasil dengan baik jika berada ditangan orang yang berfikir secara manajerial daripada yang berfikir secara teknis aplikasi.
  • Keempat, mulailah mencari pengembang yang memenuhi kriteria sesuai dengan aturan yang berlaku, baik secara internal maupun eksternal. Pesan penulis…carilah pengembang yang sudah berpengalaman dalam mengimplementasikan SIMRS-IT, sebab dapat membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi melalui pendekatan yang obyektif, apalagi jika pengembang tersebut merupakan substansi dasar dari suatu rumah sakit. Carilah pengembang yang mampu menjelaskan bagaimana cara memecahkan masalah dalam birokrasi manual, jangan memilih pengembang yang hanya menampilkan apa yang telah diperbuat…sebab berbasisi apapun program aplikasi yang dikembangkan akan invalid jika tidak mampu dikelola dengan baik…banyak rumah sakit yang dapat menikmati SIMRS-IT tidak lebih dari 1 tahun…

Saat ini sudah banyak rumah sakit yang telah mengeluarkan anggaran untuk SIMRS-IT, tetapi hanya beberapa persen saja yang berhasil, meskipun stagnan (sulit melakukan pengembangan). SIMRS-IT bukan hanya sekedar hardware & software , tetapi bagian dari manajemen rumah sakit, jangan perlakukan SIMRS-IT hanya sebagai hardware & software saja, tetapi perlakukanlah sebagai team yang ikut membangun keberhasilan citra rumah sakit…

Tidak ada komentar: