Sabtu, 07 Februari 2009

Selamat & Sukses Lounching dan Pengukuhan H-RDMC Cabang Kalimantan Timur

SELAMAT DAN SUKSES................

LOUNCHING DAN PENGUKUHAN HOSPITAL – RESEARCH, DEVELOPING & MANAGING CENTER (H-RDMC)
PERWAKILAN KALIMANTAN TIMUR

Drg. Musafira A.L, MARS

........................
TERIMAKASIH ATAS KEIKUTSERTAAN MENGIRIM PESERTA PADA ACARA KAMI.......
DAFTAR PESERTA WORKSHOP
“STRATEGI RUMAH SAKIT DALAM MENGELOLA PASIEN DENGAN JAMINAN”
BALIKPAPAN, 06-07 FEBRUARI 2009
1. RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI
A. MUSLIMIN, S.Kom
B. RANIANA RANTE, SKM
C. ACHMAD NURIZAL, Amd
D. ISYANA MARTHA DEWI, dr.
E. NUR AFIAH, dr.

2. RSUD KABUPATEN NUNUKAN
A. PARMEDY, SKM
B. SRI RAMDAWARDANI
C. NURHAYATI, AP
D. DEWI MURNI, Amd. PK

3. RSUD TAMAN HUSADA BONTANG
A. RIA ASTUTI
B. AGUS SANTOSO
C. RACHMANIAH BUSAERI, dr. Sp. M.
D. AMAT SOHIB
E. BAHARUDDIN

4. RSUD HARAPAN INSAN SENDAWAR
A. RENI SETIOWATI, Amd.Kep.
B. HERAWATI, dr, Sp. OG, M.Kes

Rabu, 14 Januari 2009

Term of Refference

WORKSHOP

“STRATEGI RUMAH SAKIT DALAM MENGELOLA
PASIEN DENGAN JAMINAN”

Latar Belakang
Mekanisme pre payment system telah membawa iklim baru bagi industrialisasi sector kesehatan terutama rumah sakit. Kesamaan peran dan kerjasama yang saling menguntungkan antara rumah sakit sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan (disingkat PPK) dengan Perusahaan-perusahaan yang memiliki sumber daya yang menitipkan dan mempercayakan pegawainya apabila sakit dengan mekanisme pembayaraan yang terkendali transparent dan cost effective merupakan azas-azas yang harus diperankan oleh keduanya.

Salah satu bentuk pembayaran pasien dengan jaminan adalah Kebijakan Pemerintah dalam mengelola pelayanan terhadap masyarakat miskin telah mengarah kepada Universal Couverage Asuransi Kesehatan. Trend tentang prepayment sistem ini mulai dari PKPS-BBM, JPS-BK, Askeskin dan Jamkesmas saat ini bermuara pada pengendalian pembiayaan kesehatan dimana Departemen Kesehatan memberlakukan Pembayaran berbasis Bauran Kasus (case mix) yang saat ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1161/Menkes/SK/X/2007 tentang Penetapan Tarif RS Berdasarkan Indonesia Diagnosis Related Group (INA-DRG).
Dalam pengelolaan pasien dengan jaminan tersebut Rumah sakit secara terstruktur dan tersistematis perlu melakukan berbagai hal mulai dari desiminasi informasi sampai pada tahapan evaluasi implementasi tarif pembayaran pasien dengan jaminan. Berbagai faktor yang mempengaruhi kompleksitas implementasi pengelolaan pasien dengan jaminan tersebut adalah karena dibutuhkannya berbagai keahlian mulai dari medis, perawat, perekam medis, keuangan RS dan IT yang semuanya perlu kohesiveness dan berkerja secara team dalam mengelola dan menyederhanakan berbagai kendala teknis maupun kebijakan dalam implementasi pengelolaan pasien dengan jaminan tersebut.
Untuk itu diperlukan penyamaan persepsi dan percepatan sharing pengalaman serta meingkatkan keterampilan dalam pengelolaan pasien dengan jaminan dalam bentuk workshop “strategi rumah sakit dalam mengelola pasien dengan jaminan”


Tujuan
Umum :
Memberikan gambaran pengelolaan pasien dengan jaminan di rumah sakit
Khusus:
o Memahami tentang konsep dan peran rumah sakit dalam pre payment system
o Meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mengimpelementasikan pengelolaan pasien dengan jaminan
o Memberikan bekal pengetahuan praktis dan ketermapilan khusus berbasis tools dalam pengelolaan pasien dengan jaminan

Sasaran
Workshop ini diikuti oleh minimal perwakilan 4 (empat) unsur masing-masing rumah sakit yaitu dari unsur Komite Medik, Rekam Medik, IT dan Bagian Keuangan.

Strategi Pelaksanaan
Secara keseluruhan kegiatan workhsop ini dilaksanakan selama 2 (dua) hari atau sekitar 20 jam pelajaran (20 x 45 menit), dengan fokus hari pertama yaitu overview dan strategi rumah sakit memenangkan persaingan dalam pengelolaan pasien dengan jaminan dalam antisipasi universal couverage health insurance, sedangkan hari kedua berfokus pada intensifikasi pendapatan dari pasien dengan jaminan menggunakan metoda bimbingan teknis, praktikum serta uji coba tools yang mendukung utilisasi review dan intensifikasi total revenue.
Metoda yang digunakan adalah ceramah tanya jawab, diskusi kelompok, pembahasan kasus, sharing experience serta praktikum penggunaan tools yang appropriate.

Organisasi Pelaksana
Kegiatan ini difasilitasi oleh Hospital-Research, Developing & Managing Center (H-RDMC) RSUD R. Syamsudin, S.H. Kota Sukabumi Jawa Barat dengan Konsultan terkait yaitu :
1. Suherman, dr, MKM (Direktur RSUD R. Syamsudin, S.H. Kota Sukabumi, Wakil Ketua Arsada Jawa Barat)
2. Yanyan Rusyandi (konsultan Ekonomi Kesehatan H-RDMC)
3. Ng Phi Shi (Team IT Development RSUD Patut Patuh Patju Kabupaten Lombok Barat Propinsi Nusa Tenggara Barat)

Informasi H-RDMC :
Hospital-Research, Developing & Managing Center (H-RDMC)
Kantor Pusat :
Jalan Rumah Sakit Nomor 1 Kota Sukabumi Jawa Barat Kode Pos 43113
Telepon 0266-225180, 225181, 7040122 Fax. 0266-212988

Kantor Perwakilan Indonesia Timur
Jl. AP. Pettarani No 4 Makasar 90222 Telp. 0411-5070855, 853044 Fax 0411-870370

Web : http://hospital-rdmc.blogspot.com
Mail : health.rdmc@gmail.comrusyandi@gmail.com

Personal contact :
Yanyan Rusyandi (0818710686) mail : pptirs_2008@yahoo.com ID YM : pptirs_2008
Drg. Musafira A., MARS (08124210948)

Waktu dan Tempat
Kegiatan ini dilaksananakan di Balikpapan Propinsi Kalimantan Timur pada hari Jum’at-Sabtu tanggal 6-7 Februari 2009 (tempat dalam konfirmasi).


Tentative Schedule
Berdasarkan struktur materi dan strategi pelaksanaan tentative schedule dapat diformulasi sebagai berikut :
1. Trend & Issue Kebijakan Sistem Pembiayaan Kesehatan
2. Intensifikasi Pendapatan RS sebagai Instrumen Pengendalian Kinerja
3. Mekanisme & Pengelolaan Pra-Payment system
4. Bargaining position RS dalam underwriting
5. Peran RS dalam penentuan Tarif pasien dengan Jaminan
6. Strategi Implementasi Pengelolaan pasien dengan Jaminan
7. Dukungan Teknologi Informasi dalam Pengelolaan Pasien dengan Jaminan
8. Sharing Experience Mengelola Pasien dengan Jaminan
9. Praktikum

Biaya
Investasi untuk kegiatan tersebut adalah Rp 3.600.000 (tiga juta enam ratus ribu rupiah) per peserta dengan fasilitas :
- penginapan selama acara workshop.
- Seminar kit, makalah dalam bentuk hardcopy dan CD


Penutup
Tuntutan masyarakat akan semakin tingginya kualitas pelayanan kesehatan merupakan tantangan lain bagi rumah sakit dalam menyikapi secara proaktif apa yang menjadi keinginan masyarakat sebagai konsumen (consumer driven). Seiring dengan kemajuan era informasi dan kemajuan IPTEKDOK dalam era globalisasi sekarang ini tidak sedikit masyarakat yang dengan kelas ekonomi tertentu akan memilih asuransi kesehatan sebagai mitra jaminan kesehatannya. Hal itu senada dengan tujuan Pemerintah dalam menciptakan universal couverage asuransi kesehatan. Ini mengharuskan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi trend dan issue ke depan. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi percepatan bagi rumah sakit dan dapat lebih percaya diri melalui kesiapan serta interkoneksi antara kompetensi SDM dengan penguasaan teknologi informasi.


Balikpapan, 05 Januari 2009
Kepala Divisi Manajemen
H-RDMC

Yanyan Rusyandi, SE, MKes

Undangan Workshop "Strategi Rumah Sakit Dalam Mengelola Pasien Dengan Jaminan"

Balikpapan, 05 Januari 2009
Kepada Yth.
Seluruh Direktur RS
(RSUD/RS Swasta/RS Khusus)
di
tempat

Dengan Hormat,
Bergesernya pola pembiayaan rumah sakit dari out of pocket menjadi prepayment system menuntut kesiapan rumah sakit dalam melakukan pengelolaan secara terstruktur dan tersistematis. Berbagai perspektif yang berbeda antara kecepatan pelayanan dan kepastian pembayaran mengharuskan perpaduan team unit yang menangani pasien dengan jaminan tersebut antara tim IT, Komite Medik, Bagian Keuangan dan Rekam Medik. Kerjasama tim ini akan mempercepat penagihan claim yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, Hospital-Research Developing & Managing Center (H-RDMC) menginisiasi untuk menjawab wacana di atas melalui penyelenggaraan kegiatan workshop dengan tema :

“Strategi Rumah Sakit Dalam Mengelola Pasien Dengan Jaminan”

Pada:Hari/Tanggal : Jumat - Sabtu / 06 – 07 Februari 2009
Waktu : Pukul 09.00 WIB s/d selesai
Tempat : Balikpapan (tempat dalam konfirmasi)

Mengingat pentingnya informasi yang dapat diperoleh dalam Pelatihan ini, kami memohon partisipasi dan peran serta untuk mengirimkan perwakilannya guna mengikuti kegiatan tersebut. Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.



H-RDMC
Kepala Divisi Manajemen


Yanyan Rusyandi, SE, MKes

KAIDAH IMPLEMENTASI SIMRS BERBASISKAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI RUMAH SAKIT

SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) yang berbasiskan teknologi informasi merupakan suatu prestige tersendiri bagi rumah sakit yang sudah menggunakannya, sebab selain dapat membawa perubahan yang bersifat manajerial (seperti laporan – laporan internal dan eksternal) juga dapat membawa suatu habit yang menuju perbaikan dan modern. Selain itu, bagi pengembang juga memiliki prestige tersendiri juga, bagi pangembang yang berhasil, atau minimalnya pernah terlibat secara langsung atau tidak akan mendapatkan promosi dari hasil pekerjaannya (jika berjalan sukses).
Setiap rumah sakit yang bersiap – siap untuk mengimplementasikan SIMRS yang berbasiskan teknologi informasi biasanya akan mengadakan suatu survey tersediri ke tiap – tiap rumah sakit yang sudah menggunakannya, hasil survey yang pernah dilakukan biasanya akan berdampak pada image perusahaan pengembang serta dampak yang diperoleh.
Saat ini sudah banyak pengembang yang dapat aplikasi SIMRS yang berbasiskan teknologi informasi, baik secara corporate atau personal, dan dengan harga yang bervariasi juga, tergantung pada kelengkapan aplikasi yang diinginkan. Hal yang perlu diingat oleh setiap rumah sakit yang akan mengembangkan SIMRS nya, harga yang ditawarkan oleh setiap pengembang hingga saat ini belum memiliki standar yang baku, artinya sah – sah saja jika setiap pengembang menawarkan harga yang berbeda – beda padahal jika difikir – fikir sedikit sekali perbedaan fungsinya, yang banyak mungkin hanya tampilan atau warna.
Ada suatu kesalahan dalam berfikir dan menterjemahkan SIMRS-IT di suatu rumah sakit, pihak manajemen biasanya akan berfikir setelah SIMRS-IT diimplementasikan maka segala kemudahan yang telah diimpikannya akan terwujud, apalagi setelah berdasarkan hasil survey di rumah sakit yang telah dikunjunginya selalu menemukan kemudahan – kemudahan. Tetapi apakah hal tersebut dapat terwujud di rumah sakit sendiri ? jawabannya belum tentu, sebab ada beberapa hal prinsip yang dilupakan oleh pihak manajemen rumah sakit dalam menerapkan SIMRS-IT, hal tersebut adalah rumah sakit yang dikunjunginya adalah bukan rumah sakit tempatnya bekerja, dengan demikian akan memiliki beberapa perbedaan yang mendasar, seperti habit/tatacara/kebiasaan/sistem dan pegawai. Perbedaan – perbedaan inilah yang biasanya terlupakan oleh pihak manajemen dalam mengartikan tingkat keberhasilan dalam implementasi SIMRS-IT.
Setiap rumah sakit memiliki cara yang berbeda dalam memberlakukan suatu kebijakan, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hal tersebut wajar, karena memiliki pimpinan yang berbeda, terlebih lagi setiap rumah sakit akan bersaing untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggannya dengan cara – cara yang berbeda. Tingkat pengalaman dalam mengimplementasikan SIMRS-IT bagi para pengembang juga dapat dijadikan suatu ukuran keberhasilan, semakin berpengalaman maka pengembang akan melakukan tingkat kehati – hatian yang tinggi, karena akan mempertaruhkan nama baiknya dalam bisnis SIMRS-IT. Bagi rumah sakit, cenderung akan memilih pengembang yang sudah berpengalaman dalam mengimplementasikan SIMRS-IT (mungkin sedikitnya telah 3 rumah sakit dalam kurun waktu tertentu).
Membuat dan mengimplementasikan SIMRS-IT bukan sesuatu yang mudah dilakukan, apalagi jika di rumah sakit yang bersangkutan telah memiliki pengalaman dalam implementasi SIMRS-IT.
  • Pertama – tama yang harus dilakukan manajemen sebelum mengimplementasikan SIMRS-IT adalah memberikan sosialisai kepada setiap pegawai tentang rencana dan tujuan diterapkannya SIMRS-IT, menerima penjelasan yang sebanyak – banyaknya adalah hak pegawai, sebab pegawai dari unit manapun merupakan tulang punggung suksesnya implementasi SIMRS-IT. Tentukan peran masing – masing pegawai ketika SIMRS-IT sebelum diimplementasikan, jangan sampai saling merasa tidak bertanggungjawab terhadap implementasi SIMRS-IT. Dalam proses sosialisasi ini sebaiknya manajemen juga memetakan kesulitan dan kebutuhan yang ada dilapangan berdasarkan prioritas, sebab jika manajemen melihat SIMRS-IT hanya dari apa yang telah dilihatnya ketika melakukan studi banding maka sudah dapat dipastikan yang dilihatnya merupakan sesuatu yang menyenangkan.
  • Kedua yang harus dilakukan oleh pihak manajemen adalah memetakan setiap pelayanan hingga pada bentuk laporan ke dalam suatu narasi teknis keilmuan (SOP/prosedur/alur kerja/) sehingga mudah dimengerti oleh setiap pembacanya, narasi yang dibuat dapat berupa tulisan atau gambar alur. Hal ini dimaksudkan agar pembuat / pengembang dapat menyesuaikan program aplikasi yang dibuatnya dengan keadaan rumah sakit bersangkutan, bukan sebaliknya (justru hingga kini masih banyak rumah sakit yang didikte oleh pengembang dalam menjabarkan suatu alur kerja dan pelaporan). Ingat ! dalam menterjemahkan alur manual ke dalam bahasa pemograman pengembang emang jagonya, tetapi secara substansi justru para pegawailah jagonya…kesulitan atau kelemahan para praktisi.
  • Ketiga yang harus dilakukan oleh rumah sakit adalah menunjuk siapa penanggungjawab teknis dilapangan mulai dari proses sosialisai hingga proses pengembangan program aplikasi SIMRS-IT, hal ini penting, sebab dapat mempermudah proses pembuatan, artinya pengembang hanya akan bertanya kepada seorang penanggungjawab internal saja jika ada hal – hal yang perlu dikonfirmasikan. Penanggungjawab di sini dapat diartikan sebagai manager/pengatur SIMRS-IT, orang yang ditunjuk dapat yang berasal dari latar belakang pendidikan yang sesuai ataupun tidak, intinya orang tersebut haruslah orang yang paling mengerti dan bertanggungjawab pada narasi yang telah dibuat oleh rumah sakit. “The right man on the right job”, pilihlah orang yang mengerti secara manajerial, bukan orang yang mengerti secara teknis aplikasi…sebab orang yang mengerti secara manajerial akan selalu membuat terobosan – terobosan dalam memecahkan kebuntuan. Harus dipisahkan antara yang berfikir secara manajerial dengan yang berfikir secara teknis aplikasi…berdasarkan pengalaman, SIMRS-IT akan berhasil dengan baik jika berada ditangan orang yang berfikir secara manajerial daripada yang berfikir secara teknis aplikasi.
  • Keempat, mulailah mencari pengembang yang memenuhi kriteria sesuai dengan aturan yang berlaku, baik secara internal maupun eksternal. Pesan penulis…carilah pengembang yang sudah berpengalaman dalam mengimplementasikan SIMRS-IT, sebab dapat membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi melalui pendekatan yang obyektif, apalagi jika pengembang tersebut merupakan substansi dasar dari suatu rumah sakit. Carilah pengembang yang mampu menjelaskan bagaimana cara memecahkan masalah dalam birokrasi manual, jangan memilih pengembang yang hanya menampilkan apa yang telah diperbuat…sebab berbasisi apapun program aplikasi yang dikembangkan akan invalid jika tidak mampu dikelola dengan baik…banyak rumah sakit yang dapat menikmati SIMRS-IT tidak lebih dari 1 tahun…

Saat ini sudah banyak rumah sakit yang telah mengeluarkan anggaran untuk SIMRS-IT, tetapi hanya beberapa persen saja yang berhasil, meskipun stagnan (sulit melakukan pengembangan). SIMRS-IT bukan hanya sekedar hardware & software , tetapi bagian dari manajemen rumah sakit, jangan perlakukan SIMRS-IT hanya sebagai hardware & software saja, tetapi perlakukanlah sebagai team yang ikut membangun keberhasilan citra rumah sakit…

Senin, 05 Januari 2009

Isu - isu Strategis dalam Manajemen Teknologi dan Inovasi

Du Pont Company telah lama dikenal keunggulannya dalam bidang penelitian perusahaan. Pada awal tahun 1990-an, sebagai contoh, perusahaan menjadi pemegang hak paten terbanyak secara nasional. Perusahaan menghabiskan $13 milyar untuk penelitian di bidang kimia dan bidang terkait lainnya sepanjang tahun 1980-an, tetapi pihak manajemen mengakui adanya kegagalan untuk menghasilkan inovasi - inovasi unggulan. "Mereka banyak mempunyai program: teknologi adalah segalanya, tetapi bagaimana hasilnya ?" demikian pernyataan analis industri, John Garcia. Edgar Woolard, CEO Du Pont, mengakui bahwa perusahaan mengahabiskan terlalu banyak waktu untuk "meneliti produk - produk yang berguna bagi pelanggan" Bahkan dalam beberapa produk unggulannya, perusahaan mengalami kerugian akibat pesaing lebih memfokuskan pada operasi pemanufakturan yang lebih baik. Pelanggan yang menginginkan perubahan pada produk damar nilonnya bermerek Zytel sering harus menunggu selama 6 bulan untuk mendapatkan jawaban dari perusahaan. Du Pont memang menjadi tempat yang aman untuk bekerja, ungkap Woolard, tetapi "Kita harus birokratis dalam menjalankan bisnis ini"
Menurut Joseph Miller, Direktur penelitian polimer Du Pont, perusahaan memang menekankan aspek R&D untuk menemukan produk - produk unggulan (big bang) seperti penemuan produk nilon. Konsekuensinya, perusahaan mengeluarkan banyak produk baru - didesain secara unggul, tetapi ditolak di pasarnya. Beberapa diantaranya Kevlar, lebih kuat dibanding baja, tetapi harganya terlalu mahal; Corfarm, kulit sintetis yang tidak dapat menyerap air sehingga tidak nyaman untuk dibuat sepatu; Qiana, serat sintetis yang mulai ditinggalkan seiring dengan meningkatnya penggunaan serat alami. Di samping itu, perusahaan juga mengalami kegagalan dalam produk - produk farmasi dan elektroniknya. Untuk memberikan fokus pada pelanggannya, CEO Woolard mengumumkan bahwa perusahaan mengalokasikan 30 persen anggaran penelitiannya (kurang lebih $ 400 juta per bulan) dalam usaha mempercepat akselerasi produk barunya ke pelanggan.
Gambaran Du Pont Company tersebut menunjukan bagaimana perusahaan yang sukses dan telah lama berdiri dapat mengalami kesulitan dalam mengembangkan dan memasarkan produk baru ketika gagal mengkaitkan teknologi sebagai bagian dari proses manajemen strategisnya. Perusahaan yang tidak memahami bagaimana mengelola teknologi dan inovasi mungkin justru akan merusak kapabilitas yang secara orisinil merupakan kompetensi khususnya. Pada akhir tahun 1980, misalnya, Bill Gates dari Microsoft Corporation berkunjung ke IBM untuk mendiskusikan proyek kerjasama. Dia mempunya kesan bahwa IBM sedang tumbuh begitu pesat untuk bersaing secara efektif di pasar PC. Ketika istirahat di salah satu kantor IBM, dia menyaksikan secara langsung komputer - komputer yang ada telah berumur lebih dari 7 tahun. "ini menunjukan lebih dalam tentang IBM daripada yang saya ketahui sebelumnya," komentar Bill Gates.
Peran Manajer Strategis
Pada kebanyakan industri, seiring dengan semakin ketatnya persaingan dan siklus pengembangan produk yang semakin cepat, maka R&D merupakan hal yang penting bagi suksesnya perusahaan. Dalam hal ini, manajer strategis perlu menghasilkan pengembalian yang memadai atas investasi R&D yang dilakukannya. Ketika Akio Morita, Chairman Sony Corporation, berkunjung ke Inggris, dia heran dengan sejumlah perusahaan besar yang dipimpin oleh para akuntan. Akio Morita menyangkan hal itu karena mereka tidak cukup memahami sain maupun teknologi, serta lebih membatasi perannya pada aktivitas penetapan anggaran. Dari kondisi tersebut, mereka memandang bahwa R&D merupakan aktivitas biaya dan bukan dipandang sebagai investasi masa depan.
Kesadaran tentang arti pentingnya teknologi dan inovasi harus lebih ditekankan apda pihak manajemen puncak. Jika mereka tertarik pada masalah tersebut, maka jelas manajer di bawahnya akan mengikutinya. Ketika IBM mengalami krisis keuangan pada tahun 1993, misalnya, para pengamat menyatakan keterkejutannya dengan melihat kenyataan bahwa tidak satupun dari empat anggota eksekutifnya yang menggunakan atau memahami PC. Para analis mempertanyakan bagaiamana para anggota direksi dapat mengelola secara langsung bisnisnya jika di antara anggota kuncinya justru tidak memahami produk dan teknologi pendukungnya.
Manajer strategis berkewajiban tidak hanya mengembangkan produk baru, tetapi juga mengembangkan sistem yang menjamin efektifitas teknologinya agar sesuai dengan benak pelanggan. Penelitian yang dilakukan Kuczmarski & Associates, konsultan Chicago, terhadap 11.000 produk baru yang dipasarkan oleh 77 perusahaan pemanufakturan, jasa, dan produk konsumen menunjukkan bahwa 56 persen dari semua produk baru yang dijual bertahan sampai lima tahun. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hanya 1 dari 13 ide produk baru yang lolos sampai tes pasar. Meskipun banyak ahli menyatakan bahwa prosentase produk baru yang berhasil dapat lebih ditingkatkan, namun ahli lainnya menyanggah dengan mengatakan bahwa hasil temuan penelitian tersebut menunjukan adanya resiko yang justru harus diperhatikan dalam mengembangkan produk baru.
Pentingnya manajemen puncak memberikan arahan yang memadai ditunjukan oleh peryataan Chairman Morita sebagai filosofi perusahaan Sony :
"Kunci sukses bagi Sony, dan untuk segalanya dalam bisnis, sains, dan teknologi, adalah tidak pernah mengikuti pihak lain...Konsep dasar kami selalu: memberikan kenyamanan baru, atau metode baru, bagi masyarakat umum, dengan teknologi kami."
Morita bersama rekan pendiri (co-founder), Merusu Ibuka, selalu mencari jalan untuk menghasilkan ide - ide untuk tujuan yang jelas. Morita menyatakan, "Ketika Ibuka pertama kali menjelaskan idenya tentang video kaset Betamax, dia memberikan buku kerjanya kepada para insinyur dan berkata, 'Buatlah dengan ukuran ini.' itulah instruksi yang dilakukannya."
Selanjutnya Memandang Perusahaan Berdasarkan Sumber Daya...

Senin, 08 Desember 2008

Sukses Kepada Anda Yang Sudah Mempercayakan Kegiatan Kepada Kami

Tak terasa.....
persiapan, demi perisapan sudah se maksimal mungkin.....
Selamat Datang.....
Peserta Pelatihan Workshop "Pengendalian Biaya RS Berbasis Utilisasi Review dan Management Fraud" di Makassar......
Sukses Untuk Kegiatan
H-RDMC.......

Kamis, 06 November 2008

Undangan Workshop "Pengendalian Biaya RS Berbasis Utilisasi Review dan Manajemen Fraud"

Makassar, 30 Okotober 2008

Kepada
Yth Seluruh Direktur RS.................
Seluruh Direktur PT. CV. Firma...........................
di
tempat.......

Dengan hormat,
Universal coverage merupakan tujuan ditetapkannya Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional, dimana mekanisme pembayaran kepada rumah sakit sebagai pemberi pelayanan kesehatan (disingkat PPK) tidak lagi bersifat out of pocket seperti yang selama ini, tetapi melalui suatu mekanisme pre payment system yang terstruktur dan terkendali.
Suatu hal yang masih perlu untuk dipahami bersama adalah ditengah keterbatasan biaya, masih terjadi perbedaan persepsi dimana terjadi over utilisasi dari provider dan acapkali terdapat issue kajahatan fraud dalam mekanisme prepayment system yang selama ini berjalan.
Oleh karena itu, Hospital-Research Developing & Managing Center (H-RDMC) menginisiasi untuk menjawab wacana di atas melalui penyelenggaraan kegiatan workshop dengan tema :

“Pengendalian Pembiayaan Rumah Sakit Berbasis Utilisasi Review dan Manajemen Fraud”
Pada:

Hari/Tanggal : Jumat - Sabtu / 12 – 13 Desember 2008
Waktu : Pukul 09.00 WIB s/d selesai
Tempat : Hotel SANTIKA MAKASSAR****
Jl. Sultan Hasanuddin No 40 . Telp. 0411-332233 Makassar
South Sulawesi

Mengingat pentingnya informasi yang dapat diperoleh dalam Pelatihan ini, kami memohon partisipasi dan peran serta untuk mengirimkan perwakilannya guna mengikuti kegiatan tersebut. Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
Direktur Eksekutif
H-RDMC
dr. ISIO LIBRAN ANDY, MKes
Term of Reference
Workshop
‘’Pengendalian Pembiayaan Rumah Sakit Berbasis Utilisasi Review dan
Manajemen Fraud”

Latar Belakang
Mekanisme pre payment system telah membawa iklim baru bagi industrialisasi sector kesehatan terutama rumah sakit. Kesamaan peran dan kerjasama yang saling menguntungkan antara rumah sakit sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan (disingkat PPK) dengan Perusahaan-perusahaan yang memiliki sumber daya yang menitipkan dan mempercayakan pegawainya apabila sakit dengan mekanisme pembayaraan yang terkendali transparent dan cost effective merupakan azas-azas yang harus diperankan oleh keduanya.
Kenyataan saat ini beberapa rumah sakit masih berbeda pandangan dalam pengendalian biaya terkait dengan pembayaran oleh Pihak ke 3. Sisi lain adalah berbagai upaya telah dilakukan pihak perusahaan dalam pengendalian biaya termasuk utilisasi review dan manajemen fraud.
Fenomena ini perlu ada kesamaan persepsi dan pembagian peran yang jelas antara rumah sakit sebagai PPK dengan pihak asuradur.

Tujuan
Umum :
Memberikan gambaran pengendalian biaya PPK dalam hal ini rumah sakit berbasis utilisasi review dan manajemen fraud
Khusus:
o Memahami tentang konsep pengendalian biaya berbasis utilisasi review dan manajemen fraud
o Meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mengimpelementasikan pengendalian biaya dengan cara utilisasi review dan manajemen fraud
o Memberikan bekal pengetahuan praktis dalam melakukan utilisasi review dan manajemen fraud
Struktur Materi
1. Efisiensi Pembiayaan Rumah Sakit : Goal Bersama manajemen rumah sakit dengan Asuradur oleh dr. Suherman, MKM
2. Tantangan "Bargaining Position" RS dengan Asuradur oleh : Dr. M. Yani, MKes
3. Optimalisasi Peran Rumah Sakit sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) dalam Sistem Asuransi oleh : Yanyan Rusyandi, SE, MKes
4. Strategi Memilih PPK dan PEngendalian Biaya oleh Isio Libran Andy, dr, MKes
5.Implementasi Utilisasi Review dan Manajemen Fraud oleh Tim Konsultan H-RDMC
Investasi
1. Pembayaran sebelum tanggal 5 Desember 2008 Rp 995.000,- /orang
2. Pembayaran on site Rp 1.185.000,- / orang
Fasilitas :
1. Makan 1x rehat kopi 2x (selama 2 hari)
2. Materi dan sertifikat
3. CD Materi dan profile peserta
Waktu & Tempat
Jum'at-Sabtu tanggal 12-13 Desember 2008
di Hotel SANTIKA Makassar No telp 0411-332233
Contact Person
1. Isio Libran Andy 0411-5070855
2. Herwandy 081241288000
3. Yanyan 0818710686
Sasaran Peserta
1. Direktur, Bagian Keuangan, Komite Medik, Bidang Pelayanan RSUD/ RS Swasta/ RSKhusus
2. Bagian Personalia Perusahaan
3. Penyelenggara Asuransi